Tampilkan postingan dengan label VIDEO. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label VIDEO. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Januari 2018

KONFERENSI MALINO JULI 1946




Dalam kerangka SEAC setelah Perang Dunia II, Australia menyerahkan kembali wilayah Indonesia timur kepada Belanda pada 15 Juli 1946. Dengan demikian pemerintah Belanda(NICA) mendapatkan kembali wilayah Indonesia timur de jure and de facto. 

Segera setelah penyerahan ini, pemerintah NICA dipimpin oleh Letnan Gubernur Jendral Van Mook mengadakan Konferensi Malino pada tanggal 15 Juli - 25 Juli 1946 di 

Kota Malino, Sulawesi Selatan. Konferensi ini dihadiri oleh 39 orang dari 15 daerah dari Kalimantan (Borneo) dan Timur Besar (De Groote Oost) dengan tujuan membahas rencana pembentukan negara-negara bagian yang berbentuk federasi di Indonesia serta rencana pembentukan negara yang meliputi daerah-daerah di Indonesia bagian Timur.

Dalam konferensi yang dipimpin Gubernur Jenderal Hindia Belanda Van Mook tersebut dibentuk Komisariat Umum Pemerintah(Algemeene Regeeringscommissaris) untuk Kalimantan dan Timur Besar yang dikepalai Dr. W. Hoven. 

Diangkat pula menjadi anggota luar biasa Dewan Kepala-kepala Departemen (Raad van Departementshooden) untuk urusan kenegaraan adalah Sukawati (Bali), Najamuddin (Sulawesi Selatan), Dengah (Minahasa), Tahya (Maluku Selatan), Dr. Liem Tjae Le (Bangka, Belitung, Riau), Ibrahim Sedar(Kalimantan Selatan) dan Oeray Saleh (Kalimantan Barat), yang disebut pula "Komisi Tujuh". 

Peraturan pembentukan negara-negara bagian diputuskan dalam konferensi berikutnya di Denpasar, Bali. Sebelum itu akan dilangsungkan konferensi dengan wakil golongan minoritas di Pangkal Pinang, Pulau Bangka.

Rabu, 27 Desember 2017

PINISI TAHUN 1950


Film yang berdurasi 8 menit 55 detik ini merupakan Film yang memuat tentang Masyarakat Sulawesi-selatan tahun 1950. dalam scene awal, Pinisi menjadi gambar pembuka di ikuti dengan suatu kegiatan di Toraja dan di tutup dengan Komodo. Film dengan judul Celebes karya Jack kamp rumah produksi EYE Museum Film dari Amerika Serikat ini dapat menjadi rujukan kondisi Masyarakat pada masa itu (1950-an).


Minggu, 15 Oktober 2017

LAGU MALIANG RI ARA KARYA DRS. MUHANNIS



Lirik Maliang Ri ara karya drs. Muhannis
*****
Igitte Tu Araya

Rie' Mana' Bakkatta
Tala Kulle Tala Ma'ring
Nikaluppai

Manna Lampaki Lere
Mantang Pantarang Kampong
Maliangki Rannu-Rannu
Assembo-Sembo

Pajama Lopi,Lopi Pinisi'na
Dumpi Bata' Bae-Baena
Pasalonrenna, Tunrung Ganranna
Jari Nakku'i Ri Gitte Ngase'

Sanging Keokki Mmaliang
Keokki Lammaliang
Maliang
Ri Butta Ara


Sabtu, 14 Oktober 2017

BASING ATAU BULO DI KAJANG


Basing atau Bulo', Alat musik yang mirip seruling ini terbuat dari bambu dengan panjang 50 cm, memiliki lima lubang dan bagian ujungnya terbuat dari tanduk kerbau. Basing atau sering juga disebut Bulo' ini biasa dimainkan ketika salah satu warga Desa Adat yang meninggal dunia, Basing biasa dimainkan pada hari ke seratus setelah prosesi penguburan dan dimainkan semalam suntuk. 

Basing ini sendiri dimainkan Dua orang sebagai peniup Bulo' dan dua lagi menyanyi, Peniup Bulo' akan terus meniup Bulo' sampai larut malam mengiringi penyanyi, lagu yang dinyanyikan tidak dapat dimengerti, menurut penuturan penyanyi Pabbasing, Lagu tersebut menyanyikan tentang riwayat almarhum semasa hidupnya. banyak orang yang mencoba belajar memainkan Basing dan tidak berhasil mempelajarinya. Konon, setiap orang hanya mampu memainkan Bulo' dan menyanyi ketika mendapatkan wangsit dalam mimpinya. 


Basing sendiri bermula jauh sebelum adanya Ammatowa (Pemimpin adat) di Kajang. Kala itu, ada anak yang berdosa sama Ibunya, setelah meninggal dunia dan di makamkan, dalam kuburannya terdapat suara sendu yang mirip rintihan. Saat itulah Basing ini dimainkan sampai saat ini ketika ada warga Desa Adat yang meninggal dunia, Basing sendiri pernah di Filmkan oleh peneliti berkebangsaan Australia pada tahun 90-An.